Senin, 05 Januari 2015

Berhenti Mengaku Sebagai Mujahid?

Tentu bagi para ikhwan yang sudah Allah berikan kebenaran dalam hidupnya, yang sudah menemukan pemahaman yang benar, sangat ingin melakukan sebuah amalan yang di katakan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam puncak segala amal, tidak lain dan tidak bukan adalah “ Jihad “ . Namun beberapa dari para ikhwan kita, ada yang belum sanggup untuk melakukannya. Sehingga sebagian atau mungkin sebagian kecil dari para ikhwan ( wallahu’alam ) menjadi sosok yang banyak berangan-angan. Misal seperti masa-masa kita kecil dulu.  Kita di suguhi superhero, power rangers dan hal-hal yang berbau fantasy. Tentu kita berangan-angan ingin menjadi seperti mereka, hingga kita berpakaian seperti mereka dan bertingkah seperti mereka. Padahal kenyataannya kita hanya bersandiwara saja.
            
Begitulah realita yang terjadi pada sebagian dari ikhwan kita. Ketika keinginan untuk menjadi Mujahid tidak atau belum tercapai. Mereka malah bertingkah seolah-olah mereka adalah Mujahid, lalu menyebarkan berita-berita bohong kepada para ikhwan lain bahwa dia sudah menjadi Mujahid. Hal ini banyak terjadi di dunia maya, khususnya Facebook. Mereka telah termakan hawa nafsu “ ingin di sanjung “. Ini semua akibat dari tidak memiliki rasa ketidak sabaran dan malas dalam berikhtiyar. Jika sabar dan tetap berusaha untuk menjadi Mujahid sesungguhnya, Insya Allah akan berhasil bi idznillah. Namun karena ketidak sabaran tersebut, menjadikan sebagian ikhwan kita menjadi orang yang berangan tinggi, bersandiwara menjadi Mujahid, menyebarkan berita-berita bohong seolah-olah nyata kepada kaum muslimin. Agar kaum muslimin memang percaya bahwa ia seorang Mujahid.

            Kejadian seperti ini banyak saya dapatkan dari teman-teman saya, bahkan saya pernah mengalaminya sendiri. Ada yang mengaku sebagai Mujahid di Facebook, namun setelah sebagian ikhwan kita telah menyelidikinya, ternyata ia hanya seorang pria pecinta pencari akhwat dengan label Mujahid. Ada lagi yang mengaku Mujahid, selalu meng-upload fhoto yang seolah-olah itu dia, ternyata setelah diteliti, fhoto itu hanya editan Photoshop. Bahkan ada yang lebih parah lagi seorang yang mengaku Mujahid, memiliki kelompok dan Amir. Ia mengaku menjadi perantara bagi para ikhwan untuk dapat berangkat kesuriah. Ia memberi arahan bagi para ikhwan yang ingin kesuriah agar memberi uang ratusan ribu kepada mereka, lalu mereka mengaku akan mengurusnya, namun setelah uang didapat, mereka hilang begitu saja. Ini adalah bentuk penipuan berkedok Mujahid.

            Bagi yang merasa masih mengaku Mujahid dan menyebarkan berita-berita bohong kepada kaum muslimin, tapi pada kenyataannya ia hanya menghabiskan waktunya di depan komputer atau laptop, dan tidak ada tindakan yang nyata, segeralah sadar dan bertobatlah kepada Allah. Lebih baik menjadi orang biasa atau menjadi pendukung Mujahid dari pada mengaku Mujahid tapi pada kenyataannya adalah pembohong dan penipu. Jangan kotori gelar Mujahid dengan hawa nafsu. Berhentilah mengaku-ngaku sebagai Mujahid tapi pada kenyataannya adalah pembohong dan penipu. Ingatlah, Allah Ta’ala berfirman, “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf : 18)

            Dari Ibnu Mas’ud , bahwa Rasulullah  bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada Al-Birr (kebaikan), sedangkan kebaikan itu mengantarkan ke dlm surga. Sesungguhnya seseorang senantiasa bersikap jujur hingga ia dicatat di sisi Allah Ta’ala sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya Al-Kadzib (kebohongan) itu mengarahkan pada kejahatan, sedangkan kejahatan itu menjerumuskan ke dlm Neraka. Sungguh seseorang senantiasa berbohong hingga dicatat sebagai pendusta.” (HR. Bukhari (10/423)


            Dalam mensyarahkan hadits diatas, para ulama menyatakan; Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada amalan shalih yang bersih dari segala cela. Al-Birr adalah sebutan umum bagi segala kebaikan. Ada juga yang berpendapat bahwa Al-Birr adalah Surga. Jadi, Al-Birr bisa dimaknai segala amal shalih; & Surga. Adapun Al-Kadzib (kebohongan), maka perbuatan ini akan mengantarkan pada kejahatan, yaitu berpalingnya dari sifat istiqamah. Ada juga yang mengatakan bahwa kebohongan adalah kemaksiatan yang paling cepat menyebar. Mari perbaikilah niat kita, tata ulanglah niat kita. Kita berniat ingin menjadi Mujahid, namun ketika kita belum bisa menjadi Mujahid, maka bersabarlah dan teruslah berusaha untuk mencapainya.

Catatan Terhadap Dosen Saya

Tersentak ketika mendengar dosen saya berkomentar tidak baik atau miring tentang Manhaj Salaf, Para Mujahidin, Syaikh Al Albani, serta Syaikhul islam. Saya tidak ambil pusing, karena bukan beliau saja orang yang pertama menghina seperti itu. Namun saya mulai fokus ketika beliau menyampaikan tiga buah dalil untuk penghalalan amalan beliau dalam mencari berkah kepada makam-makam para Wali. Dua dari tiga dalil itu menceritakan tentang seseorang yang meminum air kencing Nabi, dan satunya bercerita tentang seorang sahabat yang meminum darah Nabi. Jujur, saya baru kali ini mendengar dalil-dalil tersebut, sehingga setelah usai kuliah, saya mencoba mencari kebenaran dalil-dalil tersebut, dan inilah hasilnya :

A. Tentang Dalil Seseorang yang meminum air kencing Nabi

1.  Hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Aiman
عَنْ أُمِّ أَيْمَنَ، قَالَتْ: قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ اللَّيْلِ إِلَى فَخَّارَةٍ فِي جَانِبِ الْبَيْتِ، فَبَالَ فِيهَا فَقُمْتُ مِنَ اللَّيْلِ، وَأَنَا عَطْشَانَةُ فَشَرِبْتُ مَا فِيهَا، وَأَنَا لا أَشْعُرُ، فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " يَا أُمَّ أَيْمَنَ، قَوْمِي فَأَهْرِيقِي مَا فِي تِلْكَ الْفَخَّارَةِ ". قُلْتُ: قَدْ وَاللَّهِ شَرِبْتُ مَا فِيهَا. قَالَتْ: فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ، ثُمَّ قَالَ: " أَمَا إِنَّكِ لا تَتَّجِعِينَ بَطْنَكِ أَبَدًا "
Dari Ummu Aiman, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bangkit pada suatu malam menuju wadah tembikar yang ada di samping rumah, lalu beliau kencing padanya. Lalu aku pun bangun pada satu malam dalam keadaan haus dan aku minum apa yang ada di dalam wadah tersebut tanpa aku sadari (bahwa itu air kencing). Ketika tiba waktu Shubuh, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai Ummu Aiman, berdiri dan tumpahkanlah isi wadah itu”. Aku berkata : “Demi Allah, aku telah meminum isinya”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga nampak gigi geraham beliau, lalu bersabda : “Sesungguhnya engkau tidak akan pernah sakit perut selamanya”.
Hadits di atas jangan langsung di telan mentah-mentah, sehingga dengan bangga menjadikan hadits di atas sebagai dalil pembolehan Tawassul yang dilarang. Kita harus melihat keadaan dan nilai dari hadits diatas.
Hadits di atas memiliki dua jalur sanad, yang pertama adalah dari sanad Al Walid bin Abdirrahhman, dan yang kedua dari jalur Nubaih An Naziy.
A. Dari Jalur pertama ( Al Walid bin Abdirrahman )
Ad-Daaruquthniy menyebutkan ta’lil atas jalan periwayatan ini :
وَسُئِلَ عَنْ حَدِيثِ أُمِّ أيمن، قَالَتْ: يَرْوِيهِ أَبُو مَالِكٍ النَّخَعِيُّ، وَاسْمُهُ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ حُسَيْنٍ، وَاخْتُلِفَ عَنْهُ فَرَوَاهُ شِهَابٌ، عَنْ أَبِي مَالِكٍ، عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ نُبَيْحٍ الْعَنْزِيِّ، عَنْ أُمِّ أيمن. وَخَالَفَهُ سَلْمُ بْنُ قُتَيْبَةَ، وَقُرَّةُ بْنُ سُلَيْمَانَ، فَرَوَيَاهُ عَنْ أَبِي مَالِكٍ، عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أُمِّ أيمن. وَأَبُو مَالِكٍ ضَعِيفٌ، وَالاضْطِرَابُ فِيهِ مِنْ جِهَتِهِ
Ad Daaruquthniy pernah ditanya tentang hadits Ummu Aiman, ia berkata : “Diriwayatkan oleh Abu Maalik An-Nakha’iy,namanya ‘Abdul-Malik bin Husain. Terdapat perselisihan riwayat darinya. Diriwayatkan oleh Syihaab, dari Abu Maalik, dari Al-Aswad bin Qais, dari Nubaih Al‘Anaziy, dari Ummu Aiman. Salm bin Qutaibah dan Qurrah bin Sulaimaan menyelisihinya. Keduanya telah meriwayatkan dari Abu Maalik, dari Ya’laa bin ‘Athaa’, dari Al-Waliid bin ‘Abdirrahmaan, dari Ummu Aiman. Abu Maalik dla’iif, dan idlthiraab dalam riwayat tersebut berasal dari sisinya” ( Al‘Ilal, 15/415 )
Sanad riwayat hadits ini lemah karena ada perawi yang bernama Abu Maalik An-Nakha’iy Al-Waasithiy atau nama lainnya ‘Ubaadah bin Al-Husain atau bin Abil-Husain; seorang yang matruuk. Termasuk thabaqah ke-7. Dipakai oleh Ibnu Maajah ( Taqriibut-Tahdziib, hal. 1199-1200 no. 8403 )
B. Dari Jalur Kedua ( Nubaih An Naziy )
Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraani dalam Al-Kabiir 25/89-90 no. 230 :
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْحَاقَ التُّسْتَرِيُّ، ثنا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، ثنا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ، حَدَّثَنِي أَبُو مَالِكٍ النَّخَعِيُّ، عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ نُبَيْحٍ الْعَنَزِيِّ، عَنْ أُمِّ أَيْمَنَ، قَالَتْ
Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya’ 2/67  :
حَدَّثَنَا أَبُو عَمْرِو بْنُ حَمْدَانَ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ بُهْلُولٍ، ثنا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ، ثنا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ حُسَيْنٍ أَبُو مَالِكٍ النَّخَعِيُّ، عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ نُبَيْحٍ العَنَزِيِّ، عَنْ أُمِّ أَيْمَنَ، قَالَتْ:
Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 4/58 :
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ كَامِلٍ الْقَاضِي، ثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوْحٍ الْمَدَايِنِيُّ، ثَنَا شَبَابَةُ، ثَنَا أَبُو مَالِكٍ النَّخَعِيُّ، عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ نُبَيْحٍ الْعَنَزِيِّ، عَنْ أُمِّ أَيْمَنَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ:
Semua dari sanad yang ada, selalu terdapat perawi yang bernama Abu Malik, dan seperti yang sudah saya jelaskan, bahwa perawi tersebut Dha’if sebagaimana yang tertera di dalam kitab Taqriibut-Tahdziib, hal. 1199-1200 no. 8403.
2. Hadits yang diriwayatkan oleh Umaimah
عَنْ أُمَيْمَةَ، قَالَتْ: كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدَحٌ مِنْ عِيدَانٍ يَبُولُ فِيهِ، وَيَضَعُهُ تَحْتَ سَرِيرِهِ، فَقَامَ فَطَلَبَ، فَلَمْ يَجِدُهُ فَسَأَلَ، فَقَالَ: " أَيْنَ الْقَدَحُ؟ "، قَالُوا: شَرِبَتْهُ بَرَّةُ خَادِمُ أُمِّ سَلَمَةَ الَّتِي قَدِمَتْ مَعَهَا مِنْ أَرْضِ الْحَبَشَةِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَقَدِ احْتَظَرَتْ مِنَ النَّارِ بِحِظَارٍ "
Dari Umaimah : Dulu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mempunyai wadah dari pelepah kurma yang beliau gunakan untuk kencing padanya, dan beliau letakkan di bawah tempat tidurnya. (Satu saat), beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam meminta wadah tersebut, namun tidak beliau temui. Maka beliau bertanya : “Dimanakah wadah itu ?”. Mereka berkata : “Telah diminum oleh Barrah, pembantu Ummu Salamah yang datang bersamanya dari negeri Habasyah. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sungguh ia telah terlindung dari api neraka”.
Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 24/189 no. 477 & 24/205-206 no. 527,Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush-Shahaabah hal. 3263 no. 7517, Al-Hasan bin Syaadzaan dalam Juuz-nya no. 29, Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al-Aahaad wal-Matsaaniy no.3342, bnul-Muqri’ dalam Mu’jam-nya no. 138, Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh 50/69 & 51/69; dari beberapa jalan : ‘Aliy bin Maimuun, Ahmad bin Ziyaad Al-Hadzdzaa’, Yahyaa bin Ma’iin, Ayyuub Al-Wazzaan, dan Hilaal bin Al-‘Alaa’, semuanya dari Ibnu Juraij, dari Hukaimah bintu Umaimah, dari ibunya (Umaimah).
Di Dalam sanad hadits diatas terdapat perawi bernama Hukaimah bintu Umaimah, dan ia Majhul, Termasuk thabaqah ke-3, dan dipakai oleh Abu Daawud dan At-Tirmidziy ( Taqriibut-Tahdziib hal. 1350 no. 8663 dan Tahriirut-Taqriib 4/408 no. 8565 )
______________________
Jadi, tidak ada alasan bagi orang yang ingin berdalil dengan dua hadits di atas untuk membenarkan Tawasul yang mereka amalkan, karena dua Hadits yang mereka maksud statusnya adalah Dha’if.
B. Tentang seorang sahabat yang meminum darah Nabi
Hadits tentang seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Az Zubair meminum darah Rasulullah adalah tidak benar sebagaimana pengakuan dari Syaikh Muqbil, silahkan cek http://www.youtube.com/watch?v=skEYpZRgecw .
Jika memang benar ada dalil yang shahih lagi sharih tentang seseorang yang meminum darah Nabi, maka ini adalah kekhususan kepada Nabi saja, tidak untuk manusia.
Imam Qadhi Iyad menyatakan sebagai berikut :
و أما نظافة جسمه، و طيب ريحه و عرقه، و نزاهته عن الأقذار و عورات الجسد ـ فكان قد خصه الله في ذلك بخصائص لم توجد في غيره
“Adapun kebersihan tubuhnya, kewangian bau badannya dan keringatnya dan kebersihannya dari kotoran-kotoran dan cacat-cacat tubuh, maka Allah telah mengkhususkan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dalam hal-hal tersebut dengan kekhususan-kekhususan yang tidak dijumpai pada selain beliau.” (Qadhi Iyad, Asy-Syifa bi-Ta’rif Huquq Al-Mushthafa, hal. 39).
Jadi sudah jelas, bahwa jika memang benar dalil tentang meminum darah Nabi itu shahih, maka itu hanya di khususkan untuk beliau saja. Wallahu’alam

Sahabat Ibnu Mas'ud Radiallahu'anhu dan Surah Al-Mu'awwidzatain

Kita sepakat bahwa Al-Qur’an memiliki 114 surah, dari al-Fatihah sampai an-Naas. Tidak ada khilaf di antara kita sebagai umat Islam dalam hal tersebut. Namun bagaimana jika ada yang menyelisihi hal tersebut? Bahkan yang menyelisihi itu seorang sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Masa sih? Benar, ada seorang sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang awalnya menyelisihi penetapan jumlah surah al-Qur’an tersebut. Beliau berpendapat bahwa jumlah surah al-Qur’an ada 112 surah saja, dua surahnya lagi bukanlah bagian dari al-Qur’an. Dua surah itu adalah surah Al-Mu’awwidzatain (al-falaq dan an-naas ).

Apa ada riwayatnya tentang hal itu?

Iya ada, ini dia :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، ثنا الأَزْرَقُ بْنُ عَلِيٍّ، ثنا حَسَّانُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الصَّلْتِ بْنِ بَهْرَامَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، " أَنَّهُ كَانَ يَحُكُّ الْمُعَوِّذَتَيْنِ مِنَ الْمَصَاحِفِ، وَيَقُولُ: إِنَّمَا أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُتَعَوَّذَ بِهِمَا، وَلَمْ يَكُنْ يَقْرَأُ بِهِمَا "
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin hanbal : Telah menceritakan kepada kami Al-Azraq bin ‘Aliy : Telah menceritakan kepada kami Hassaan bin Ibraahiim, dari Ash-Shalt bin Bahraam, dari Ibraahiim, dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah (bin Mas’uud) : Bahwasannya ia menghapus surat Al-Mu’awwidzatain dari mushhaf-mushhaf, dan berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hanyalah memerintahkan kita untuk ber-ta’awwudz dengannya”. Dan ia (Ibnu Mas’uud) tidak membacanya (dalam mushhaf)” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir no. 9152; sanadnya hasan ).
حَدَّثنا سُفْيَانُ، قَالَ: حَدَّثنا عَبْدَةُ بْنُ أَبِي لُبَابَةَ، وَعَاصِمُ ابْنُ بَهْدَلَةَ، أَنَّهُمَا سَمِعَا زِرَّ بْنَ حُبَيْشٍ، يَقُولُ: سَأَلْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ عَنِ الْمُعَوِّذَتَيْنِ، فَقُلْتُ: يَا أَبَا الْمُنْذِرِ ! إِنَّ أَخَاكَ ابْنَ مَسْعُودٍ يَحْكِهِمَا مِنَ الْمُصْحَفِ، قَالَ: إِنِّي سَأَلَتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قِيلَ لِي: قُلْ، فَقُلْتُ، فَنَحْنُ نَقُولُ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "
Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Abi Lubaabah dan ‘Aashim bin Bahdalah, keduanya mendengar Zirr bin Hubaisy berkata : Aku pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’b tentang surat Al-Mu’awwidzatain(QS. Al-Falaq dan An-Naas). Aku berkata : “Wahai Abul-Mundzir, sesungguhnya saudaramu Ibnu Mas’uud menghapusnya dari mushhaf”. Ubay berkata : “Sesungguhnya aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda : ‘Dikatakan kepadaku : Qul (katakanlah), lalu akupun mengatakannya. Lalu kami pun mengatakannya sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” ( Diriwayatkan oleh Al-Humaidiy no. 378; sanadnya hasan )
أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى بْنِ مُجَاشِعٍ، حَدَّثَنَا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ زِرٍّ، قَالَ: قُلْتُ لأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: إِنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ لا يَكْتُبُ فِي مُصْحَفِهِ الْمُعَوِّذَتَيْنِ، فَقَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " قَالَ لِي جِبْرِيلُ: قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ فَقُلْتُهَا، وَقَالَ لِي: قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ فَقُلْتُهَا ".فَنَحْنُ نَقُولُ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Imraan bin Muusaa bin Mujaasyi’ : Telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khaalid : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari ‘Aashim, dari Zirr, ia berkata : Aku pernah berkata kepada Ubay bin Ka’d : “Sesungguhnya Ibnu Mas’uud tidak menuliskan surat Al-Mu’awwidzatain dalam mushhaf”. Lalu ia (Ubay) berkata : “Telah berkata kepadaku Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Jibriil telah berkata kepadaku : Qul a’uudzu bi-rabbil-falaq. Lalu aku mengatakannya (mengikuti bacaannya). Dan dikatakan kepadaku : Qul a’uudzu birabbin-naas. Lalu aku mengatakannya (mengikuti bacaannya)’. Maka kami pun mengatakan apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” ( Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 797; sanadnya hasan )
Apa alasan sahabat Ibnu Mas’ud berpendapat demikian?
Ibnu Qutaibah berkata : ‘’Abdullah bin Mas’uud tidak menuliskan surat Al-Mu’awwidzatain dalam mushhaf karena ia pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan (kepada Allah) dengan membaca Al-Mu’awwidzatain untuk Al-Hasan dan Al-Husain radliyallaahu ‘anhumaa” ( Tafsiir Al-Qurthubiy, 20/251 )
Lalu, bagaimana kita menyikapi hal tersebut?
Mari perhatikan pendapat para Ulama dalam mendudukkan masalah ini!

Al-Imam Al-Qurthubiy rahimahullah berkata :
وزعم ابن مسعود أنهما دعاء تعوذ به، وليستا من القرآن؛ خالف به الإجماع من الصحابة وأهل البيت. قال ابن قتيبة: لم يكتب عبدالله بن مسعود في مصحفه المعوذتين؛ لأنه كان يسمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يعوذ الحسن والحسين - رضي الله عنهما – بهما
“Ibnu Mas’uud menyangka bahwa Al-Mu’awwidzatain merupakan doa untuk ta’awwudz(memohon perlindungan), dan bukan bagian dari Al-Qur’an. Dengan pendapat tersebut, ia telah menyelisihi kesepakatan para shahabat dan ahlul-bait (bahwa Al-Mu’awwidzatainmerupakan bagian dari mushhaf Al-Qur’an). ( Tafsiir Al-Qurthubiy, 20/251 )
Al-Imam Al-Bazzaar rahimahullah berkata :
وهذا الكلام لم يتابع عبد الله عليه أحد من أصحاب النبي وقد صح عن النبي أنه قرأ بهما في الصلاة وأثبتتا في المصحف
“Perkataan ini (bahwasannya Al-Mu’awwidzatain bukan bagian dari Al-Qur’an), tidak ada seorang shahabat Nabi pun yang mengikuti ‘Abdullah (bin Mas’uud). Dan telah shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau membaca Al-Mu’awwidzatain dalam shalat, dan menetapkannya dalam mushhaf” ( Bahruz-Zakhaar no. 1586 )
Ibnu Hazm rahimahullah berkata :
كل ما روى عن ابن مسعود من أن المعوذتين وأم القرءان لم تكن في مصحفه فكذب موضوع لا يصح وانما صحت عنه قراءة عاصم عن زر بن حبيش عن ابن مسعود وفيها أم القرءان والمعوذتان
“Semua yang riwayat yang berasal dari Ibnu Mas’uud yang menyatakan bahwa surat Al-Mu’awwidzatain dan Ummul-Qur’aan (Al-Faatihah) tidak ada dalam mushhaf, maka itu dusta, palsu, dan tidak shahih. Yang shahih dari Ibnu Mas’uud hanyalah qira’aat (Al-Qur’an) ‘Aashim, dari Zirr bin Hubaisy, dari Ibnu Mas’uud yang padanya terdapat Ummul-Qur’aan dan Al-Mu’awwidzatain” ( Al-Muhallaa, 1/13 )
Perkataan Ibnu Hazm di atas disepakati oleh An-Nawawiy rahimahumallah dalam Al-Majmuu’, 3/396. Namun pendapat Al-Imam Ibnu Hazm yang mengatakan riwayat tersebut tidak shahih maka ini tidak benar, yang benar riwayat tersebut shahih. Wallahu’alam
Begitulah pendapat para Ulama dalam menyikapi riwayat-riwayat tersebut. Namun, Alhamdulillah, sahabat Ibnu Mas’ud radiyallahu’anhu sudah rujuk dari pendapat beliau tersebut.
Al-Imam Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :
وهذا مشهور عند كثير من القراء والفقهاء: أن ابن مسعود كان لا يكتب المعوذتين في مصحفه، فلعله لم يسمعهما من النبي صلى الله عليه وسلم، ولم يتواتر عنده، ثم لعله قد رجع عن قوله ذلك إلى قول الجماعة، فإن الصحابة، رضي الله عنهم، كتبوهما في المصاحف الأئمة، ونفذوها إلى سائر الآفاق كذلك، ولله الحمد والمنة
“Aku katakan : Ini masyhuur menurut kebanyakan qurra’ dan fuqahaa’ bahwasannya Ibnu Mas’uud tidak menuliskan surat Al-Mu’awwidzatain dalam mushhaf-nya. Barangkali ia tidak pernah mendengar sebelumnya dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan tidakmutawatir riwayat tersebut darinya (Ibnu Mas’uud). Dan sungguh ia telah rujuk dari pendapatnya itu kepada pendapat jama’ah, karena para shahabat radliyallaahu ‘anhumtelah menuliskannya (Al-Mu’awwidzatain) dalam mushhaf-mushhaf para imam dan menyebarluaskannya ke seluruh pelosok negeri. Walillaahil-hamd wal-minnah” ( Tafsiir Ibni Katsiir, 8/531 )
‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu – betapapun ketinggian kedudukannya di kalangan shahabat – bukanlah manusia yang ma’shum. Ia berkata hanya sebatas apa yang diketahui dan dipahami saja, sehingga (pernah) berpendapat Al-Mu’awwidzatainbukan termasuk bagian dari Al-Qur’an yang dibaca dalam shalat. Namun ia telah keliru. Yang menjadi hujjah adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bukan selainnya. Oleh karena itu, setelah mengetahuinya, Ibnu Mas’uud tidak segan-segan rujuk kepada kebenaran. Wallahu’alam.

Berhati-Hatilah Dalam Menyampaikan Hadits!

“Hadits” merupakan kata yang sudah tidak asing lagi kita dengar, bahkan mungkin setap hari kita mendengar kata tersebut. Kita tahu betapa pentingnya hadits. Hadits merupakan pedoman kita yang kedua setelah Al Qur’an. Hadits adalah segala perkataan, perbuatan, dan penetapan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, ini adalah salah satu pengertian Hadits, walaupun ada perbedaan pendapat Ulama tentang pengertian Hadits, namun bukan itu yang ingin saya bahas. Yang ingin saya bahas adalah berkaitan dengan hadits :

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 107 dan Muslim no. 3)

          Mungkin sebagian kita mengira ketika membaca hadits itu “ Itukan bagi orang yang berdusta atas nama Rasulullah saja “ . Ketahuilah saudaraku, maksud hadits tersebut bukan hanya itu saja. Ada maksud lain lagi, apa itu? Yaitu orang-orang yang “ Asal “ dalam menyampaikan hadits, tanpa tahu sanad dan perawinya, serta tanpa tahu nilai sanadnya, juga masuk dalam kategori berdusta atas nama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Perhatikan beberapa perkataan para Ulama tentang demikian :
Berkata Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah :
مَنْ حَدَّثَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثًا لَظَّنَّ مُحَدِّثًا عَنْهُ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَالْمُحَدِّثُ عَنْهُ بِغَيْرِ الْحَقِّ مُحَدِّثٌ عَنْهُ بِالْبَاطِلِ وَالْمُحَدِّثُ عَنْهُ بِالْبَاطِلِ كَاذِبٌ عَلَيْهِ كَأَحَدِ الْكَاذِبِينَ عَلَيْهِ الدَّاخِلِينَ فِي قَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa yang menceritakan (hadits) dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dasar zhan (sangkaan), berarti ia telah menceritakan (hadits) dari beliau dengan tanpa haq, dan orang yang menceritakan (hadits) dari beliau dengan cara yang batil, niscaya ia menjadi salah seorang pendusta yang masuk kedalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :”Barangsiapa yang sengaja berdusta atas (nama)ku, hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya di neraka” (Syarah Musykil al-Atsar no. 426, I/373)
Berkata Al Imam Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah :
مَا ذكره من الْأَحَادِيث فِي خطبه من غير أَن يبين رواتها أَو من ذكرهَا فَجَائِز بِشَرْط أَن يكون من أهل الْمعرفَة فِي الحَدِيث، أَو ينقلها من كتاب مؤلفة كَذَلِك، وَأما الِاعْتِمَاد فِي رِوَايَة الْأَحَادِيث على مُجَرّد رؤيتها فِي كتاب لَيْسَ مُؤَلفه من أهل الحَدِيث، أَو فِي خطب لَيْسَ مؤلفها كَذَلِك فَلَا يحل ذَلِك، وَمن فعله عُزِّر عَلَيْهِ التعزيز الشَّديد، وَهَذَا حَال أَكثر الخطباء فَإِنَّهُم بِمُجَرَّد رُؤْيَتهمْ خطْبَة فِيهَا أَحَادِيث حفظوها وخطبوا بهَا من غير أَن يعرفوا أَن لتِلْك الْأَحَادِيث أصلا أم لَا، فَيجب على حكام كل بلد أَن يزجروا خطباءها عَن ذَلِك

“Menyebutkan hadits-hadits dalam khutbah tanpa menyebutkan para perawinya dibolehkan dengan syarat bahwa ia sebagai ahli hadits, atau ia menukilnya dari buku yang penulisnya adalah ahli hadits. Adapun berpegang pada suatu hadits yang ia dapatkan dari sebuah buku yang penulisnya tidak tergolong ahli hadits, atau di buku-buku khutbah yang penulisnya juga demikian, maka hal itu tidak diperbolehkan. Barang siapa yang melakukannya, ia berhak diberi hukuman yang keras. Ternyata, demikianlah keadaan para khatib. Mereka hanya melihat buku-buku khutbah yang di dalamnya terdapat hadits, mereka pun menghafalkannya, lalu ia sampaikan dalam khutbahnya, tanpa memperdulikan apakah hadits-hadits tersebut ada dasarnya atau tidak? Maka wajib atas para penguasa setiap negara untuk memepringatkan para khatib yang melakukan hal demikian.” (Al-Fatawa al-Haditsiyah hal. 32, lihat juga Koreksi Total Praktek Khutbah dan Ceramah hal. 32 karya Su’ud bin Malluh bin Sulthan al-’Anazi.)
Berkata Al Imam al-Anshari rahimahullah :
مَنْ أرادَ الاحتجاجَ بحديثٍ من السُّنَنِ، أَوْ من المسانيد أنَّه إنْ كَانَ متأهّلاً لمعرفةِ ما يحتجُّ بِهِ مِنْ غيرِهِ، فلا يَحتجُّ بِهِ، حَتَّى ينظرَ في 
اتِّصالِ إسنادِهِ، وحالِ رُواتِهِ، وإلاّ فإن وَجَدَ أحداً من الأئِمَّةِ صحَّحَهُ، أَوْ حَسَّنَهُ فَلَهُ تقليدُهُ، وإلاَّ فلا يُحتجُّ بِهِ

“Seorang yang ingin berdalil dengan suatu hadits yang terdapat dalam kitab Sunan dan Musnad, (maka dia berada dalam dua kondisi). Jika dia seorang yang mampu untuk mengetahui (kandungan) hadits yang akan dijadikan dalil, maka dia tidak boleh berdalil dengannya hingga dia meneliti ketersambungan sanad hadits tersebut (hingga nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan kapabilitas para perawinya. Jika dia tidak mampu, maka dia boleh berdalil dengannya apabila menemui salah seorang imam yang menilai hadits tersebut berderajat shahih atau hasan. Jika tidak menemui seorang imam yang menshahihkan hadits tersebut, maka dia tidak boleh berdalil dengan hadits tersebut.” (Ushul Fiqh ‘ala Manhaj Ahli al-Hadits hal 15, juga di Fath al-Baqi fi Syarh Alfiyah al-’Iraqi hal. 162.)
Berkata Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah :
من أراد أن يحتج بحديث من السنن أو بأحاديث  من المسانيد واحد؛ إذ جميع ذلك لم يشترط من جمعه الصحة ولا الحسن خاصة، فهذا المحتج إن كان متأهلا لمعرفة الصحيح من غيره، فليس له أن يحتج بحديث من السنن من غير أن ينظر في اتصال إسناده وحال رواته كما أنه ليس له أن يحتج بحديث من المسانيد حتى يحيط علما بذلك.
وإن كان غير متأهل لدرك ذلك فسبيله أن ينظر في الحديث إن كان خرج في الصحيحين أو صرح أحد من الأئمة بصحته، فله أن يقلد في ذلك.
وإن لم يجد أحدا صححه ولا حسنه فما له أن يقدم على الاحتجاج به فيكون كحاطب ليل فلعله يحتج بالباطل وهو لا يشعر.

“Cara yang harus ditempuh bagi orang yang ingin berhujjah dengan hadits yang tertera dalam kitab-kitab Sunan dan kitab-kitab Musnad itu satu, karena semua kitab itu tidak mensyaratkan shahih dan hasan dalam penghimpunannya. Jadi, bila orang yang hendak berhujjah ini mampu untuk mengetahui hadits shahih dari lainnya, maka ia tidak boleh berhujjah dengan hadits dari kitab-kitab Sunan itu sebelum ia memperhatikan ketersambungan sanadnya dan keadaan para perawinya. Selain itu, ia juga tidak boleh berhujjah dengan hadits dari kitab-kitab Musnad sampai ia benar-benar menguasai disiplin ilmu ini.
Dan bila orang yang hendak berhujjah tidak mampu melakukan hal itu maka jalan terbaik baginya adalah memperhatikan hadits tersebut. Bila hadits tersebut disebutkan dalam shahihain atau ada di antara ulama hadits yang secara jelas menyatakan keshahihannya maka ia boleh mengikutinya dalam masalah tersebut.
Bila ia tidak menjumpai seorang ulama menilai hadits itu shahih atau hasan maka ia tidak boleh berhujjah dengannya. Orang semacam ini ibarat orang yang mencari kayu bakar di malam yang gelap gulita. Boleh jadi ia berhujjah dengan suatu riwayat yang bathil, tapi ia tidak merasa.” (An-Nukat ‘ala Kitab Ibn Shalah, 1/449)
Berkata Al Imam al-Munawi asy-Syafi’i rahimahullah :
فليس لراوي حديث أن يقول قال الرسول إلا إن علم صحته ويقول في الضعيف روى أو بلغنا فإن روى ما علم أو ظن وضعه ولم يبين حاله أيدرج في جملة الكذابين لإعانته المفتري على نشر فريته فيشاركه في الإثم كمن أعان ظالما ولهذا كان بعض التابعين يهاب الرفع ويوقف قائلا الكذب على الصحابي أهون

Maka tidak boleh bagi seseorang yang meriwayatkan hadits untuk berkata : “Rasulullah bersabda” kecuali jika ia mengetahui shahihnya hadits tersebut, dan ia berkata pada hadits dhoif : “Telah diriwayatkan..” atau “Telah sampai kepada kami…”. Jika ia meriwayatkan hadits yang ia tahu atau ia persangkakan merupakan hadits palsu lantas ia tidak menjelaskan keadaannya maka ia termasuk dalam barisan pendusta, karena ia telah membantu sang pemalsu hadits dalam menyebarkan kedustaannya, maka iapun ikut menanggung dosa, seperti seseorang yang menolong orang yang dzolim. Oleh karenanya sebagian tabi’in takut untuk menyandarkan hadits kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ia menyandarkan hadits kepada sahabat dan berkata, “Dusta atas nama shahabat lebih ringan” (Faidhul Qadhir juz 6 hal. 116)
Al-Qodhi Abul Mahasin Yusuf bin Musa Al-Hanafi rahimahullah berkata :
قال الله تعالى: {أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ} والقول عن الرسل قول على الله والحق هنا كهو في قوله تعالى: {إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ} فكل من شهد بظن شهد بغير حق إذا لظن لا يغني من الحق شيئا فكذا من حدث عن النبي صلى الله عليه وسلم بالظن حدث عنه بغير حق فكان باطلا والباطل كذب فهو أحد الكاذبين عليه الداخلين في قوله: “من كذب علي فليتبوأ مقعده من النار” ونعوذ بالله من ذلك

“Allah berfirman “Bukankah Perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, Yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali dengan al-haq/yang benar”, dan perkataan dari Rasulullah adalah perkataan atas nama Allah. Al-Haq pada ayat ini seperti al-Haq dalam firman Allah “Kecuali orang yang menyaksikan dengan al-Haq/kebenaran .”
Maka setiap orang yang mempersaksikan dengan zhon (prasangka) maka ia telah mempersaksikan dengan selain al-Haq, karena zhon tidaklah memberikan kebenaran sama sekali. Maka demikian pula orang yang menyampaikan sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan zhon/persangkaan maka ia telah menyampaikan dari Nabi dengan selain al-Haq, maka hal ini merupakan kebatilan, dan kebatilan adalah dusta. Maka jadilah ia salah seorang dari para pendusta atas nama Nabi, dan termasuk orang-orang yang masuk dalam sabda Nabi : “Barangsiapa yang berdusta atasku maka bersiaplah mengambil tempatnya di neraka”, dan kita berlindung dari hal ini” (Al-Mu’tashor min al-Mukhtashor min Musykil al-Aatsaar 2/262)
            Itulah beberapa perkataan para Ulama kita rahimakumullah. Jadi saudaraku, berhati-hatilah dalam menyampaikan hadits. Saya sangat sering melihat orang-orang yang “ asal “ dalam menyampaikan hadits, khususnya di Facebook, tidak menyebutkan sanadnya, tidak menyebutkan perawinya, serta tidak menyebutkan bagaimana nilai sanadnya. Terakhir saya ingin menyampaikan dua hadits sebagai penutup, semoga menjadi renungan.

عن أبي هريرة قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: كَفَى بِالْمَـرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَح

Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Cukuplah seseorang itu berdosa bahwa ia menceritakan semua yang ia dengar”. ( HR Muslim: 5 dan Abu Dawud: 4992. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih sebagaimana di dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4482 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2025)

Berkata al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah, “Di dalam hadits ini terdapat ancaman bagi seseorang yang menyampaikan setiap apa yang ia dengar sampai ia tahu dengan seyakin-yakinnya bahwasanya hadits atau riwayat tersebut adalah shahih. (Kitab Majruhiin minal Muhadditsin: I/ 16-17 oleh al-Imam Ibnu Hibban, tahqiq Hamdi Abdul Majid as-Salafi )

عن أبي هريرة عَن رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَنَّهُ قَالَ: سَيَكُوْنُ فىِ آخِرِ الزَّمَانِ نَاسٌ مِنْ أُمَّتىِ يُحَدِّثُوْنَكُمْ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَ لاَ آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَ إِيَّاهُمْ


Dari Abu Hurairah dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya Beliau bersabda, “Akan ada sekelompok orang dari umatku di akhir zaman yang menceritakan (hadits) kepada kalian yang tidak pernah didengar oleh kalian dan bapak-bapak kalian. Waspadalah kalian terhadap mereka”.  (HR Muslim: 6. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih sebagaimana di dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3667 )

wallahu'alam.