
Dari Abu Hurairah
radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ
مِنْ النَّارِ
“Barangsiapa yang berdusta
atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di
neraka.” (HR. Al-Bukhari
no. 107 dan Muslim no. 3)
Mungkin sebagian
kita mengira ketika membaca hadits itu “ Itukan bagi orang yang berdusta atas
nama Rasulullah saja “ . Ketahuilah saudaraku, maksud hadits tersebut bukan hanya
itu saja. Ada maksud lain lagi, apa itu? Yaitu orang-orang yang “ Asal “ dalam
menyampaikan hadits, tanpa tahu sanad dan perawinya, serta tanpa tahu nilai
sanadnya, juga masuk dalam kategori berdusta atas nama Rasulullah
shallallahu’alaihi wa sallam. Perhatikan beberapa perkataan para Ulama tentang
demikian :
Berkata Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi
rahimahullah :
مَنْ حَدَّثَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
حَدِيثًا لَظَّنَّ مُحَدِّثًا عَنْهُ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَالْمُحَدِّثُ عَنْهُ
بِغَيْرِ الْحَقِّ مُحَدِّثٌ عَنْهُ بِالْبَاطِلِ وَالْمُحَدِّثُ عَنْهُ
بِالْبَاطِلِ كَاذِبٌ عَلَيْهِ كَأَحَدِ الْكَاذِبِينَ عَلَيْهِ الدَّاخِلِينَ فِي
قَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ
مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa yang menceritakan (hadits) dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dasar zhan (sangkaan), berarti
ia telah menceritakan (hadits) dari beliau dengan tanpa haq, dan orang yang
menceritakan (hadits) dari beliau dengan cara yang batil, niscaya ia menjadi
salah seorang pendusta yang masuk kedalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam :”Barangsiapa yang sengaja berdusta atas (nama)ku, hendaklah ia
mengambil tempat tinggalnya di neraka” (Syarah Musykil al-Atsar no. 426, I/373)
Berkata Al Imam Ibnu Hajar al-Haitami
rahimahullah :
مَا ذكره من الْأَحَادِيث فِي خطبه من غير أَن
يبين رواتها أَو من ذكرهَا فَجَائِز بِشَرْط أَن يكون من أهل الْمعرفَة فِي
الحَدِيث، أَو ينقلها من كتاب مؤلفة كَذَلِك، وَأما الِاعْتِمَاد فِي رِوَايَة
الْأَحَادِيث على مُجَرّد رؤيتها فِي كتاب لَيْسَ مُؤَلفه من أهل الحَدِيث، أَو
فِي خطب لَيْسَ مؤلفها كَذَلِك فَلَا يحل ذَلِك، وَمن فعله عُزِّر عَلَيْهِ
التعزيز الشَّديد، وَهَذَا حَال أَكثر الخطباء فَإِنَّهُم بِمُجَرَّد رُؤْيَتهمْ
خطْبَة فِيهَا أَحَادِيث حفظوها وخطبوا بهَا من غير أَن يعرفوا أَن لتِلْك
الْأَحَادِيث أصلا أم لَا، فَيجب على حكام كل بلد أَن يزجروا خطباءها عَن ذَلِك
“Menyebutkan hadits-hadits dalam khutbah
tanpa menyebutkan para perawinya dibolehkan dengan syarat bahwa ia sebagai ahli
hadits, atau ia menukilnya dari buku yang penulisnya adalah ahli hadits. Adapun
berpegang pada suatu hadits yang ia dapatkan dari sebuah buku yang penulisnya
tidak tergolong ahli hadits, atau di buku-buku khutbah yang penulisnya juga
demikian, maka hal itu tidak diperbolehkan. Barang siapa yang melakukannya, ia
berhak diberi hukuman yang keras. Ternyata, demikianlah keadaan para khatib.
Mereka hanya melihat buku-buku khutbah yang di dalamnya terdapat hadits, mereka
pun menghafalkannya, lalu ia sampaikan dalam khutbahnya, tanpa memperdulikan
apakah hadits-hadits tersebut ada dasarnya atau tidak? Maka wajib atas para
penguasa setiap negara untuk memepringatkan para khatib yang melakukan hal
demikian.” (Al-Fatawa al-Haditsiyah hal. 32, lihat juga Koreksi Total Praktek
Khutbah dan Ceramah hal. 32 karya Su’ud bin Malluh bin Sulthan al-’Anazi.)
Berkata Al Imam al-Anshari rahimahullah :
مَنْ أرادَ الاحتجاجَ بحديثٍ من السُّنَنِ، أَوْ
من المسانيد أنَّه إنْ كَانَ متأهّلاً لمعرفةِ ما يحتجُّ بِهِ مِنْ غيرِهِ، فلا
يَحتجُّ بِهِ، حَتَّى ينظرَ في
اتِّصالِ إسنادِهِ، وحالِ رُواتِهِ، وإلاّ فإن
وَجَدَ أحداً من الأئِمَّةِ صحَّحَهُ، أَوْ حَسَّنَهُ فَلَهُ تقليدُهُ، وإلاَّ فلا
يُحتجُّ بِهِ
“Seorang yang ingin berdalil dengan suatu
hadits yang terdapat dalam kitab Sunan dan Musnad, (maka dia berada dalam dua
kondisi). Jika dia seorang yang mampu untuk mengetahui (kandungan) hadits yang
akan dijadikan dalil, maka dia tidak boleh berdalil dengannya hingga dia
meneliti ketersambungan sanad hadits tersebut (hingga nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam) dan kapabilitas para perawinya. Jika dia tidak mampu, maka dia boleh
berdalil dengannya apabila menemui salah seorang imam yang menilai hadits
tersebut berderajat shahih atau hasan. Jika tidak menemui seorang imam yang
menshahihkan hadits tersebut, maka dia tidak boleh berdalil dengan hadits
tersebut.” (Ushul Fiqh ‘ala Manhaj Ahli al-Hadits hal 15, juga di Fath al-Baqi
fi Syarh Alfiyah al-’Iraqi hal. 162.)
Berkata Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah :
من أراد أن يحتج بحديث من السنن أو بأحاديث
من المسانيد واحد؛ إذ جميع ذلك لم يشترط من جمعه الصحة ولا الحسن خاصة، فهذا
المحتج إن كان متأهلا لمعرفة الصحيح من غيره، فليس له أن يحتج بحديث من السنن من
غير أن ينظر في اتصال إسناده وحال رواته كما أنه ليس له أن يحتج بحديث من المسانيد
حتى يحيط علما بذلك.
وإن كان غير متأهل لدرك ذلك فسبيله أن ينظر في
الحديث إن كان خرج في الصحيحين أو صرح أحد من الأئمة بصحته، فله أن يقلد في ذلك.
وإن لم يجد أحدا صححه ولا حسنه فما له أن يقدم
على الاحتجاج به فيكون كحاطب ليل فلعله يحتج بالباطل وهو لا يشعر.
“Cara yang harus ditempuh bagi orang yang
ingin berhujjah dengan hadits yang tertera dalam kitab-kitab Sunan dan
kitab-kitab Musnad itu satu, karena semua kitab itu tidak mensyaratkan shahih
dan hasan dalam penghimpunannya. Jadi, bila orang yang hendak berhujjah ini
mampu untuk mengetahui hadits shahih dari lainnya, maka ia tidak boleh
berhujjah dengan hadits dari kitab-kitab Sunan itu sebelum ia memperhatikan
ketersambungan sanadnya dan keadaan para perawinya. Selain itu, ia juga tidak
boleh berhujjah dengan hadits dari kitab-kitab Musnad sampai ia benar-benar menguasai
disiplin ilmu ini.
Dan bila orang yang hendak berhujjah tidak
mampu melakukan hal itu maka jalan terbaik baginya adalah memperhatikan hadits
tersebut. Bila hadits tersebut disebutkan dalam shahihain atau ada di antara
ulama hadits yang secara jelas menyatakan keshahihannya maka ia boleh
mengikutinya dalam masalah tersebut.
Bila ia tidak menjumpai seorang ulama menilai
hadits itu shahih atau hasan maka ia tidak boleh berhujjah dengannya. Orang
semacam ini ibarat orang yang mencari kayu bakar di malam yang gelap gulita.
Boleh jadi ia berhujjah dengan suatu riwayat yang bathil, tapi ia tidak
merasa.” (An-Nukat ‘ala Kitab Ibn Shalah, 1/449)
Berkata Al Imam al-Munawi asy-Syafi’i
rahimahullah :
فليس لراوي حديث أن يقول قال الرسول إلا إن علم
صحته ويقول في الضعيف روى أو بلغنا فإن روى ما علم أو ظن وضعه ولم يبين حاله أيدرج
في جملة الكذابين لإعانته المفتري على نشر فريته فيشاركه في الإثم كمن أعان ظالما
ولهذا كان بعض التابعين يهاب الرفع ويوقف قائلا الكذب على الصحابي أهون
Maka tidak boleh bagi seseorang yang meriwayatkan
hadits untuk berkata : “Rasulullah bersabda” kecuali jika ia mengetahui
shahihnya hadits tersebut, dan ia berkata pada hadits dhoif : “Telah
diriwayatkan..” atau “Telah sampai kepada kami…”. Jika ia meriwayatkan hadits
yang ia tahu atau ia persangkakan merupakan hadits palsu lantas ia tidak
menjelaskan keadaannya maka ia termasuk dalam barisan pendusta, karena ia telah
membantu sang pemalsu hadits dalam menyebarkan kedustaannya, maka iapun ikut
menanggung dosa, seperti seseorang yang menolong orang yang dzolim. Oleh
karenanya sebagian tabi’in takut untuk menyandarkan hadits kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ia menyandarkan hadits kepada
sahabat dan berkata, “Dusta atas nama shahabat lebih ringan” (Faidhul Qadhir
juz 6 hal. 116)
Al-Qodhi Abul Mahasin Yusuf bin Musa
Al-Hanafi rahimahullah berkata :
قال الله تعالى: {أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ
مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ} والقول عن
الرسل قول على الله والحق هنا كهو في قوله تعالى: {إِلَّا مَنْ شَهِدَ
بِالْحَقِّ} فكل من شهد بظن شهد بغير حق إذا لظن لا يغني من الحق شيئا فكذا
من حدث عن النبي صلى الله عليه وسلم بالظن حدث عنه بغير حق فكان باطلا والباطل كذب
فهو أحد الكاذبين عليه الداخلين في قوله: “من كذب علي فليتبوأ مقعده من النار”
ونعوذ بالله من ذلك
“Allah berfirman “Bukankah Perjanjian Taurat
sudah diambil dari mereka, Yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap
Allah kecuali dengan al-haq/yang benar”, dan perkataan dari Rasulullah adalah
perkataan atas nama Allah. Al-Haq pada ayat ini seperti al-Haq dalam firman
Allah “Kecuali orang yang menyaksikan dengan al-Haq/kebenaran .”
Maka setiap orang yang mempersaksikan dengan
zhon (prasangka) maka ia telah mempersaksikan dengan selain al-Haq, karena zhon
tidaklah memberikan kebenaran sama sekali. Maka demikian pula orang yang
menyampaikan sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan
zhon/persangkaan maka ia telah menyampaikan dari Nabi dengan selain al-Haq,
maka hal ini merupakan kebatilan, dan kebatilan adalah dusta. Maka jadilah ia
salah seorang dari para pendusta atas nama Nabi, dan termasuk orang-orang yang
masuk dalam sabda Nabi : “Barangsiapa yang berdusta atasku maka bersiaplah
mengambil tempatnya di neraka”, dan kita berlindung dari hal ini” (Al-Mu’tashor
min al-Mukhtashor min Musykil al-Aatsaar 2/262)
Itulah
beberapa perkataan para Ulama kita rahimakumullah. Jadi saudaraku,
berhati-hatilah dalam menyampaikan hadits. Saya sangat sering melihat
orang-orang yang “ asal “ dalam menyampaikan hadits, khususnya di Facebook,
tidak menyebutkan sanadnya, tidak menyebutkan perawinya, serta tidak
menyebutkan bagaimana nilai sanadnya. Terakhir saya ingin menyampaikan dua
hadits sebagai penutup, semoga menjadi renungan.
عن أبي هريرة قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى
الله عليه و سلم: كَفَى بِالْمَـرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَح
Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda
Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Cukuplah seseorang itu berdosa bahwa
ia menceritakan semua yang ia dengar”. ( HR Muslim: 5 dan Abu Dawud: 4992.
Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih sebagaimana di dalam Shahih al-Jami’
ash-Shaghir: 4482 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2025)
Berkata al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah, “Di
dalam hadits ini terdapat ancaman bagi seseorang yang menyampaikan setiap apa
yang ia dengar sampai ia tahu dengan seyakin-yakinnya bahwasanya hadits atau riwayat
tersebut adalah shahih. (Kitab Majruhiin minal Muhadditsin: I/ 16-17 oleh
al-Imam Ibnu Hibban, tahqiq Hamdi Abdul Majid as-Salafi )
عن أبي هريرة عَن رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه
و سلم أَنَّهُ قَالَ: سَيَكُوْنُ فىِ آخِرِ الزَّمَانِ نَاسٌ مِنْ أُمَّتىِ
يُحَدِّثُوْنَكُمْ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَ لاَ آبَاؤُكُمْ
فَإِيَّاكُمْ وَ إِيَّاهُمْ
Dari Abu Hurairah dari Rosulullah
Shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya Beliau bersabda, “Akan ada sekelompok
orang dari umatku di akhir zaman yang menceritakan (hadits) kepada kalian yang
tidak pernah didengar oleh kalian dan bapak-bapak kalian. Waspadalah kalian
terhadap mereka”. (HR Muslim: 6. Berkata
asy-Syaikh al-Albaniy: shahih sebagaimana di dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir:
3667 )
wallahu'alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar